Potensi dan Ancaman Masa Depan Lautan Indonesia

Latest Comments

No comments to show.

Oleh : Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan)

Sebagai negara maritim, lautan adalah wajah Indonesia di mata dunia yang menghadirkan banyak pesona yang ditawarkan. Dalam lautan Indonesia, membentang keindahan alam bawah laut yang menjadi primadona bagi banyak wisatawan pecinta laut secara internasional. Derasnya ombak juga seringkali menjadikan laut sebagai obyek pariwisata surfing yang menjadi kerinduan pencinta olahraga laut. Tak ketinggalan menyebut misteri bawah laut Indonesia yang “memantik” berbagai peneliti, ahli, ilmuwan dan pakar untuk menelitinya lebih mendalam.

Kajian mengenai potensi lautan Indonesia selayaknya perlu mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia. Sebab tantangan terhadap pesona dan masa depan lautan Indonesia cukup banyak dan bersifat strategis. Ancaman penangkapan ikan menggunakan alat menangkap ikan yang berbahaya dan kasus pencurian ikan oleh kapal asing sangat merugikan kepentingan nasional. Penggunaan alat tangkap ikan yang berbahaya seperti trawl atau bom ikan sangat mengancam ekosistem ikan dan hewan laut lainnya, sebab akan menciptakan daya rusak luar biasa terhdap terumbu karang. Kerusakan terumbu karang berdampak buruk dan berjangka panjang sebab membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali dipulihkan. Secara ekonomi, penggunaan alat tangkap ikan yang berbahaya juga menjadi alarm “kematian” bagi peningkatan potensi wisata bahari dan mendegradasi kapasitas reproduksi ikan di masa depan. Membiarkan laut dipenuhi tindakan berbahaya, maka kita ikut berkontribusi besar meninggalkan reruntuhan bagi masa depan generasi bangsa dalam menjaga ekosistem lautan nasional.

Sebagaimana tujuan bangsa yang berorientasi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, kasus pencurian ikan oleh pihak asing sangat merugikan kepentingan nasional. Dalam aspek ekonomi, ikan hasil curian akan membuat daya saing nelayan lokal menjadi lemah. Kesejahteraan nelayan lokal terancam akibat kalah saing dengan kapal Indonesia maupun kapal asing yang besar dengan teknologi canggih. Sementara ikan yang dilarikan kapal asing juga berdampak buruk kepada pemasukan atau devisa bangsa Indonesia. Kerugian negara diperkirakan mencapai 30 sampai 100 triliun setiap tahun akibat maraknya kasus kejahatan pencurian ikan oleh kapal asing.

Sepanjang tahun 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan tercatat sudah menangkap 6 kapal pelaku pencurian ikan di laut Natuna Utara. Selain itu, penangkapan juga dilakukan terhadap kapal Indonesia yang melakukan pencurian ikan sebanyak 35 kapal. Mereka ditangkap karena melanggar area ketentuan fishing ground sehingga diperlukan proses hukum dan tindakan sanksi administrative membayar uang denda kepada negara. Pelanggaran hukum di lautan ini tentu perlu menjadi program prioritas pemerintah dalam menjaga sumber daya laut sekaligus mendorong agar kekayaan lautan dapat berdampak positif terhadap kesejahteraan nelayan lokal dan mendukung kesehatan seluruh masyarakat Indonesia melalui semangat gemar makan ikan.

Tantangan lain yang cukup berat adalah mengatasi masalah sampah plastik dan limbah hasil industri yang menimbulkan kerusakan bagi ekosistem lautan. Saat ini diperkirakan sebanyak 620.000 ton sampah plastik muncul di lautan Indonesia, sehingga membuat Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan nilai buruk dalam pengelolaan sampah plastik di laut. Apalagi sebanyak 40 sampai 50 persen sampah plastic menciptakan ancaman dan bahaya sebab tidak mudah terurai secara alami dan berubah menjadi mikroplastik. Maraknya sampah plastik di lautan nasional dipengaruhi banyak factor, seperti rendahnya kesadaran masyarakat menjaga laut dengan banyak yang membuang sampah ke Sungai, pengelolaan sampah yang buruk sehingga mudah hanyut terbawa air ke laut, serta masih mudah ditemukannya objek pariwisata yang tidak dilengkapi fasilitas sampah memadai sehingga wisatawan membuang sampah ke laut.

Berbagai potensi ancaman itu tentu berefek negatif sebab menciptakan kerugian ekonomi nasional dimana pantai menjadi kotor dan biaya rutin membersihkan sampah di lautan menjadi semakin melambung tinggi. Sampah yang gagal terurai juga menciptakan ancaman terhadap Kesehatan, sebab mikroplastik akan mudah termakan ikan. Sedangkan banyak manusia memakan ikan hasil tangkapan nelayan di lautan, sehingga menghasilkan beragam penyakit dalam jangka panjang. Adanya sampah plastic juga mengancam keanekaragaman hayati dimana banyak hewan laut seperti penyu dan paus terancam kematian akibat tersangkut jaring atau mengonsumsi plastik yang dikira ubur-ubur. Pembuangan limbah pabrik secara langsung ke laut tanpa pengolahan yang memadai adalah ancaman “silent killer” bagi ekosistem maritim. Berbeda dengan sampah plastik yang terlihat mata, limbah cair industri sering kali mengandung zat kimia berbahaya yang dampaknya bersifat sistemik dan jangka panjang.

Ancaman bahaya limbah hasil industri yang dibuang ke lautan juga perlu menjadi perhatian dan prioritas bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia. Umumnya limbah pabrik berasal dari industri tambang, tekstil, kertas dan kimia sehingga mengandung logam berat, zat pewarna sintesis dan ancaman kimia berbahaya lainnya. Logam berat misalnya sulit dicerna oleh organisme dan ketika dimakan ikan berpotensi menciptakan kadar racung yang besar di tubuh ikan. Ketika itu terjadi dan ikan tersebut dimakan manusia akan menciptakan penyakit seperti gangguan saraf, kerusakan ginjal, dan kanker. Bahaya lain adalah merusak terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Sementara aspek ekonomi, pembuangan limbah industri ke lautan secara sembarangan mengakibatkan nelayan mengalami kerugian sebab kehilangan mata pencaharian karena ikan akan bermigrasi atau mati, serta harga jual ikan menurun karena kekhawatiran kontaminasi. Selain itu, di wilayah pesisir, limbah pabrik dapat merembes ke air tanah (intrusi), membuat sumber air warga menjadi beracun.

Dalam merespons berbagai ancaman, dinamika dan tantangan tersebut dibutuhkan regulasi hukum yang lebih ketat dalam menghadapi kejahatan laut baik pencurian ikan, membuang sampah sembarangan dan pembuangan limbah industri ke lautan yang tidak sesuai ketentuan. Hukum yang ketat, keras dan tegas dibutuhkan untuk menciptakan efek jera sekaligus menyadarkan masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya menjaga lautan Indonesia. Selain tindakan hukum, diperlukan edukasi baik kampanye, aksi nyata dan diskusi yang melibatkan banyak pihak seperti pemerintah, parlemen, kalangan swasta, penggiat masyarakat sipil, media massa, akademisi, pakar, ahli dan beragam stakeholders lainnya. Kampanye menjaga laut dan membiasakan makan ikan harus terus dimassifkan sebagai upaya menciptakan pentingnya laut sebagai masa depan bangsa. Kesadaran di kalangan lembaga pendidikan formal, informal dan nonformal juga harus ditingkatkan melalui berbagai narasi edukatif mengenai pentingnya menjaga lautan Indonesia. Dukungan dan inisiatif pembersihan laut dari ancaman sampah plastik seperti digerakkan kelompok masyarakat Pandawara Group juga perlu dimassifkan sehingga kesadaran menjaga lautan juga terus dengan semangat arus bawah dan berbasis gerakan volunterisme.

TAGS

CATEGORIES

Blog

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *