Oleh : Inggar Saputra (Praktisi pendidikan dan kebangsaan)
Kepemimpinan adalah bahasan yang tak pernah kering dibahas berbagai manusia di seluruh dunia. Apa kepemimpinan dan bagaimana cara memimpin selalu dipelajari, dikaji, diteliti dan diyakini harus ditemukan caranya. Dengan memahami secara pengetahuan mengenai kepemimpinan, orang berharap dapat memimpin dengan baik. Padahal sejatinya memimpin dan kepemimpinan itu bergerak secara dinamis. Kadang bukan teori semata, tapi bagaimana praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang yang mampu memimpin, seperti dijelaskan Instagram @dandung.bawono agar berhasil jadi pemimpin dapat mempraktekan 11 hukum kepemimpinan. SIfatnya universal, sehingga banyak dipelajari dan yakin efektif dipraktekan banyak orang dimanapun berada.
Pertama, pimpin dirimu sebagai memimpin orang lain. Memimpin dengan baik, maka harus menguasai diri sendiri. Pelajaran siapa diri saya, bagaimana emosi, spiritual, intelektual merupakan pelajaran terbaik. Mengenali diri akan membuat kita sadar seberapa mampu kita memimpin orang lain. Gaya kepemimpinan banyak pemimpin itu bersifat mempengaruhi. Sehingga seorang memimpin selayaknya sudah selesai mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.
Kedua, rekrut orang hebat dan berikan mereka ruang untuk bekerja. Memimpin itu pengaruh, dan menciptakan pengaruh itu membutuhkan kerjasama tim. Sebuah tim hebat harus dikelilingi orang hebat, yang bukan hanya cerdas intelektual. Tetapi bagaimana mereka mau belajar dan bekerja keras. Kemampuan kita mengajak orang hebat yang sevisi dalam pemikiran dan perjalanan menjadi penting. Sebab di situ kita akan belajar memimpin dan mendelegasikan tugas seorang pemimpin ke bawah sesuai kompetensi kehebatan bawahan kita masing-masing.
Ketiga, siap turun tangan ketika dibutuhkan. Memimpin bukan berada di atas langit, hidup bagaikan dewa dan tidak mau menapak ke bumi. Seorang pemimpin harus tahu kapan bergerak mengkonsep dan merencanakan sesuatu. Kapan harus turun tangan menangani masalah yang dirasakan mendesak dan membutuhkan solusi dirinya secara langsung. Pemimpin yang melayani, demikian banyak orang menyebutnya. Sebagai pemimpin, harus seimbang kemampuan konseptor dan kepemimpinan melayani secara langsung di lapangan.
Keempat, berkomunikasi secara jelas, konsisten dan rutin. Dalam ilmu kepemimpinan, berkomunikasi secara interaktif dan dua arah menjadi sesuatu yang penting. Kemampuan berkomunikasi secara jelas membuat orang lain tahu mengenai kemauan pemimpin dalam memecahkan masalah. Komitmen pemimpin untuk konsisten berbicara dan memberikan arahan secara rutin kepada bawahan akan membuatnya disegani dan perintahnya dipatuhi. Tanpa komunikasi yang aktif dan interaktif, pemimpin akan dijauhi bawahan dan gagal dalam memimpin bawahan mencapai visi terbaik organisasi.
Kelima, kumpulkan pasukan untuk membuat keputusan dan ambil tindakan. Jika ingin mengetahui kualitas seorang pemimpin, lihat bagaimana dia berani mengambil keputusan terbaik dalam kondisi tersulit sekalipun. Seorang pemimpin yang cerdas akan terlihat dalam mengerti masalah, mampu menciptakan pemetaan, mengorganisir bawahan dan mengambil keputusan paling beresiko sekalipun dengan cepat serta pertimbangan matang. Keputusan yang mendesak dari pemimpin akan menjadi kunci dalam melihat kompetensi kepemimpin seseorang.
Keenam, prioritas pekerjaan mendalam dibandingkan rapat yang tidak perlu. Dalam kondisi tertentu dan bersifat mendesak, bekerja nyata menjadi lebih penting dibandingkan menghabiskan waktu untuk rapat. Jika diperlukan, rapat dijalankan secara online atau berbasis teknologi. Ini penting agar keputusan dalam sebuah persoalan kompleks dapat diambil dengan tindakan cepat. Sebab semakin lama keputusan diambil, berpotensi menghambat kerja organisasi, bawahan dan bukan tidak mungkin mengancam keselamatan banyak orang.
Ketujuh, berikan umpan balik dan penghargaan secara rutin. Tak ada manusia yang tak suka dipuji, diberikan hadiah dan dihargai hasil kerja kerasnya. Memberikan hadiah berupa uang, pujian atau barang merupakan cara efektif pemimpin menghargai kerja keras bawahan dalam memajukan organisasi. Sikap royal dengan apresiasi mendalam akan membuat pemimpin dianggap memiliki kehormatan dan kemampuan menghargai orang lain. Sebaliknya, “kepelitan” pemimpin atas itu semua membuat dirinya tidak dihargai orang lain. Dianggap hanya “memanfaatkan” tanpa memahami konsep hidup yang saling menguntungkan.
Kedelapan, tangani perilaku toksik dengan cepat. Individu atau kelompok toksik dalam organisasi adalah racun kepemimpinan. Semakin dibiarkan, bagaikan sebuah racun akan membunuh kehidupan organisasi dan membuat repot kerjasama tim. Menangani perilaku individu atau kelompok toksik akan membuat pemimpin “memecahkan” satu persoalan internal. Ini menjadi semakin penting dalam menghidupkan budaya organisasi yang efektif dan efisien. Sebab orang-orang toksik bekerja atas rasa prasangka, stereotip dan tuduhan. Mau bekerja keras dengan menghalalkan segala cara untuk kepentingan dirinya. Tapi ketika gagal, sibuk menyalahkan orang lain. Sehingga membiarkan mereka dalam organisasi akan menghancurkan masa depan organisasi itu sendiri.
Kesembilan, fokus kepada pekerjaan berdampak besar. Pemimpin tak boleh terjebak pada konsep keakuan berlebihan. Dia harus sadar, kemajuan sebuah pekerjaan dan organisasi membutuhkan tangan orang lain. Sehingga setelah sukses mencapai keberhasilan diri dan kelompok. Harus meningkatkan target dan perkuat komitmen bersama sehingga mencapai keberhasilan yang lebih besar. Menciptakan target pekerjaan yang besar akan menciptakan tantangan tersendiri bagi tim. Ini juga menciptakan efek psikologis untuk tidak mudah terjebak dari keberhasilan semu tanpa mau meningkatkan kualitas dan kompetensi diri masing-masing.
Kesepuluh, ambil waktu istirahat secukupnya dan dorong tim melakukan “istirahat” yang sama. Bekerja terlalu keras kadang membuat kelelahan fisik, mentalitas dan psikologis. Menyediakan waktu istirahat dengan “upgrading” tim menjadi sesuatu yang penting. Istirahat dapat dimaknai menciptakan jeda waktu saat bekerja. Maupun mengapresiasi diri dan tim dengan kegiatan liburan bersama di tengah waktu libur bekerja. Mengambil waktu istirahat akan membuat tim mampu bernafas sejenak. Kemudian diharapkan setelah itu tim mampu mencapai kinerja lebih baik dan merengkuh keberhasilan yang lebih besar.
Kesebelas, investasi kepada tim agar mereka bertumbuh. Pemimpin perlu “sedikit” royal dan suportif terhadap kemampuan tim atau bawahan di organisasi. Jika ada pelatihan, seminar, workshop dan agenda pengembangan diri. Dorong individu dalam tim untuk ikut dan aktif dalam kegiatan tersebut sehingga kompetensi dirinya meningkat. Keberhasilan pemimpin bukan diukur pada keberhasilan dirinya di masa kini. Melainkan bagaimana dia mampu menciptakan generasi hebat dari tim yang dipimpinnya di masa mendatang.
No responses yet